Selasa, 28 Maret 2017

Resensi Buku: Soeharto Sehat


Judul Buku : Soeharto Sehat
Penulis : Asvi Warman Adam, dkk.
Penerbit : Galang Press
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2006
Tebal Buku : 296 halaman
ISBN/ISSN : 979-24-9951-2
Peresensi : Akbar Hariyadi
-          Keunggulan Buku : menggunakan bahasa yang tidak terlalu “berilmiah-ilmiah” sehingga mudah dalam memahami apa yang disampaikan penulis dan ulasan tiap peristiwa berdasarkan sumber yang jelas.
-          Kekurangan Buku : terlihat jelas setiap peristiwa yang disampaikan menyudutkan suatu pihak, padahal sudah tertera di cover bahwa buku ini ditulis dengan tidak menyudutkan pihak manapun.


Tuhan menciptakan sejarah, tapi hanya manusia (baca : penguasa) yang bisa membengkokkan sejarah”
“Sejarah ditulis oleh sang pemenang”

Dua adagium diatas mungkin merepresentasikan apa yang telah terjadi di era Orde Baru. Soeharto sebagai penguasa tunggal dengan begitu cerdiknya mentransformasi pandangan rakyat terhadap penguasa.
Sadar atau tidak, sejarah yang telah kita pelajari, khususnya yang menyangkut peristiwa G30S/PKI adalah hasil karya rezim Orba. Soeharto dan pasukan militernya seolah menjadi dewa penyelamat dari “keganasan” PKI dan Orde Lama yang dianggapnya adalah orde yang tidak kompeten dalam melaksanakan pemerintahan.
Sosok sang Bapak Pembangunan dan ideologi Orbaismenya seakan menjadi agama yang absolut. Hal ini bisa terjadi setelah tangan dingin Soeharto merangkul para cendekiawan dan ulama agama untuk melegitimasi setiap kebijakan yang diambil.
Semua praktik KKN, kekerasan, perampasan HAM, instabilitas dan semacamnya tidak ada yang muncul ke permukaan dan mengendap di bawah karpet. Setiap kebijakan dibungkus dengan rasionalisasi dari para teknokrat dan agamawan yang berselingkuh dengan pemerintah.
Pada masa Orba, demokrasi memang dikembangkan oleh pemerintah, tetapi demokrasi itu dibungkus dengan nama demokrasi Pancasila. Tetapi muatan dan isi demokrasi Pancasila sudah dikonstruksi oleh Ideologi Orba. Ideologi Orba dengan sangat piawai disusupkan ke dalam doktrin nilai-nilai Pancasila yang kemudian diajarkan di sekolah-sekolah, di penataran-penataran dan di segala penulisan sejarah.
Ada sebuah percakapan menarik antara Hesri Setiawan dengan Supardjo P.A (Purwareja Asli alias Pikiran Abnormal), seorang mantan guru SD yang ditangkap dan di-Buru-kan karena dituduh anggota Pemuda Rakyat dan “ikut latihan” di Lubang Buaya. Pemuda asal Purwareja ini menjadi rusak ingatan akibat siksaan yang dialaminya.
Berikut ini bunyi sila-sila Pancasila dalam versi Supardjo P.A. yang darinya semoga tersirat dan tersurat sekaligus kesalahan Soeharto.
           
Pancasila
            Satu : Ketuhanan yang Berbintang
            Dua : Kemanusiaan yang Dirantai
            Tiga : Persatuan Dibawah Pohon Beringin
            Empat : Kerakyatan yang Dipimpin oleh Kerbau
            Lima : Keadilan Sosial di Kuburan


“Soeharto Sehat” adalah sebuah sindiran bagaimana The Smilling General ini masih bisa menikmati hasil kleptokrasinya selama 32 tahun memimpin Ibu Pertiwi ini dengan segala kekhilafannya. Bahkan beliau menerima surat sakti kedua setelah Supersemar, yakni SKP3 (Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Perkara), yang dengan ini kuatlah sudah tameng hukum terhadapnya dari segala tuntutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar